Regina Ayu Andini (X3, XIA3)
Aku,
Kamu dan Dia
Suasana ruang
kelas XII IPA 2 sangat ramai. Hiruk pikuk siswa yang sedang menikmati waktu
istirahatnya. Terlihat di pojok kelas ada sekelompok anak perempuan yang sedang
asyik mengobrol, dan di sekeliling ruang banyak anak lelaki yang berlarian
bercanda satu sama lain.
BRAAAAK!!
Seketika suasana ruang kelas menjadi
hening. Sebuah penghapus papan tulis melayang mengenai kepala seorang guru yang
hendak memasuki ruang kelas. “kalian semua lari keliling lapangan 5 kali
sekarang!” teriak guru. Satu persatu siswi mulai keluar dari ruang kelas dan
saling menyalahkan satu sama lain. mereka harus berlari keliling lapangan di
cuaca yang sangat terik.
TENG TENG TENG!!
Bel pulang sekolah berbunyi,
siswa-siswi langsung berlarian keluar sekolah. Raut wajah mereka nampak bahagia
seperti habis merasa melepas beban saat mendengar bel jam pelajaran berakhir.
Terlihat di dalam ruang kelas masih ada 4 siswa yang masih tersisa, yaitu
Melody, Stela, Sannia dan Rosi. Mereka masih merasa kelelahan setelah menjalani
hukuman tadi.
“cari minum yuk.” Cletuk Rosi
“boleh.”
Saut Melody
Lalu
mereka berempat beranjak dan pergi menuju tempat kendaraan mereka diparkir.
Suasana di Mall sangat ramai. Banyak
orang berhiruk pikuk sedang sibuk dengan urusan mereka sendiri-sendiri.
Sedangkan mereka berempat berjalan dari tempat perkir menuju kafe yang biasa
mereka datangi. Sebuah kafe di lantai 2 Mall yang cukup besar dan benuansa
klasik dengan di didominasi warna cokelat. Mereka duduk di tempat duduk
favorite mereka. Di ujung kafe dengan duduk berhadapan.
“pegel.” Keluh Stela
“gitu aja ngeluh.” Ejek Rosi
“huuuu.” Sahut melody sambil melempari Rosi
dengan buku
Beberapa menit kemudian minuman yang
mereka pesan datang dan mereka pun melanjutkan mengobrol, bercanda dan
menikmati minuman mereka. Mereka memang cukup dekat dan sering menghabiskan waktu bersama. Di sekolah, di
rumah dan di tempat lainnya mereka selalu pergi bersama.
Hari semakin larut. Langit siang telah
tergantikan dengan langit sore. Dan mereka pun
memutuskan untuk beranjak pulang.
“kamu setir yang bener ya Ros.” Cletuk Sania
“iya aku mau tidur.” Saut Melody
Rosi
pun hanya membalas candaan mereka dengan
senyum kecut. Dan lalu masuk ke dalam mobil. Di sepanjang perjalanan suasana
dalam mobil sangat sunyi. Stela dan Melody yang duduk di bangku belakang telah terlelap.
Sedangkan Sania yang duduk di samping Rosi hanya diam dan memperhatikan jalan.
“kebo banget mereka.” Keluh Rosi
“iya tuh, tapi aku setia nemenin kamu
kok. Haha” Cletuk Sania
***
Hari ini di sekolah mereka ada
pertandingan basket pelajar antar sekolah. Tentu saja suasana di sekolah mereka
sangat ramai. Rosi yang merupakan pemain basket andalan sekolah mereka pun juga
sangat sibuk mempersiapkan diri. Melody, Stela dan Sania sibuk menyiapkan
properti untuk mendukung Rosi saat bermain nanti.
“acaranya mau mulai, ayo cepet.” Teriak Sania
dari luar kelas
Seluruh
siswa-siswi langsung berlarian menuju lapangan basket. Disana suasana sudah
ramai dengan teriak-teriakan supporter dari masing-masing sekolah.
Pertandingan berjalan cukup tegang
namun tetap seru dengan teriakan pendukung di bangku penonton. Dan tentunya di
ramaikan juga dengan penampilan Cheerleaders. Hingga pertandingan terakhir Tim
Rosi berhasil memenangkan pertandingan hari ini. Teriakan kegembiraan dan tepuk
tangan pendukung membuat keadaan yang tadinya mulai sepi menjadi ramai kembali.
“selamat ya Ros.” Ucap Stela
“iya, makasih udah dukung.” Jawab Rosi
“trattir makan aja cukup kok.” Cletuk melody
Sania
dan teman lainnya pun bergantian mengucapkan selamat dan bersalaman dengan
Rosi. Namun Rosi kali ini tidak bisa berkumpul dengan ketiga teman ceweknya
karena harus berkumpul dengan teman di Tim Basketnya dulu. Rosi sempat
melambaikan tangan dan tersenyum manis pada ketiga temannya lalu dia
menghilang.
***
Malam ini Rosi sedang berdiam diri di
kamarnya dengan bermain laptop. Entah kenapa ada yang mengganggu pikirannya.
Tiba-tiba dia teringat dengan Melody. Cewek itu sebenarnya adalah orang yang
membuat perasaannnya selalu bahagia dan tenang. Perasaan itu mulai dia rasakan
semenjak berada dalam satu lingkungan kelas dan berteman dengannya beberapa
bulan ini. Namun Rosi tidak pernah menampakkan perasaannya tersebut.
Hai mel. Maaf malam-malam ganggu kamu. Aku suka sama kamu.
Awalnya aku nganggep ini perasaan yang sama dengan perasaan yang aku rasain ke
Stela dan Sania. Tapi ternyata ini beda mel. Aku tahu aku salah dengan perasaan
ini. Maafin aku bicara seperti ini
Rosi
memang anak yang cuek dan selalu menganggap yang berlalu biarlah berlalu.
Setelah mengirim sms itu ke Melody dia langsung bergegas tidur dan tidak
menghiraukannya lagi.
***
TOK TOK TOK!!
Terdengar suara ketuka pintu dari luar
kamar Melody. Dia yang tadinya sedang sibuk dengan laptopnya langsung beranjak
dan membuka pintu.
“kamu
san.” Kata Melody
“iya
aku tidur rumah kamu ya. Aku lagi bosen di rumah.” Rayu Sania
Melodu
haya tersenyum dan mempersilahkan Sania masuk. Tiba-tiba Melody merasa perutnya
sakit, dan pergi ke kamar mandi meninggalkan Sania di kamar sendiri bermain
laptop. Saat Melody ke kamar mandi hapenya berbunyi, dan Sania yang iseng
langsung membuka dan membacanya. Namun dia malah terkejut dan langsung sedih.
Lalu dia langsung membereskan barangnya dan langsung pergi tanpa berpamitan
dengan Melody.
Melody yang kaget karena setelah
kembali ke kamar temannya sudah tidak ada lagi. Dia bingung berniat akan sms
Sania. Namun dia malah terkejut melihat hapenya. Ada sms dari Rosi yang telah
terbuka. Dia berfikir Sania yang telah membukanya dan marah setelah melihat
itu. Melody langsung merasa bersalah dan membalas sms Rosi tersebut.
Pagi harinya Rosi bangun lebih awal
dari biasanya dan mengecek hape sudah ada dua sms. Yang satu dari operator yang
selalu setia sms dan yang satu lagi dari Melody. Rosi langsung membacanya
Maaf. Tapi ini menyusahkan kita.
Lupakan saja.
Rosi
langsung terkejut dan sedikit kecewa. Dia tahu akan seperti ini, namun entah
kenapa dia merasa sangat kecewa. Tapi Rosi langsung melupakan dan kembali ke
kegiatan biasanya.
***
Tiga hari ini Stela tidak di pernah di
ajak ngobrol dengan ketiga temannya. Dia tidak pernah merasa membuat salah jadi
dia heran dengan semua ini.
“kamu kenapa?” cetus Stela pada Sania
“tanya aja ke Melody atau Rosi mereka kayaknya
lebih tahu dan lagi berbunga-bunga juga” Cetus
Sania
Stela
yang merasa kesal langsung beranjak dari kelas dan memutuskan untuk juga tidak
menghiraukan mereka.
Beberapa bulan telah berlalu. Mereka sudah tidakpernah
bersama lagi semenjak waktu itu. Dan kini mereka sudah resmi lulus dari sekolah
mereka. Tentunya mereka tidak mungkin kuliah di tempat yang sama. Stela
memutuskan kulliah di Universitas yang dekat saja, namun tidak tahu dengan
Melody, Sania dan Rosi. Stela yang merasa kesal tidak lagi ingin tahu dengan
kabar mereka.
Pagi ini Stela harus pergi ke kampus untuk
mengurusi admnistrasi yang belum selesai. Dia berangkat sendiri. Dan tiba-tiba
dia teringat saat berangkat sekolah bersama teman-temannya dulu. Namun
cepat-cepat Stela melupakannya. Setelah tiba di kampus dia langsung menuju ke
ruang administrasi. Lalu ada orang yang menepuk pundak Stela.
“lama gak ketemu.”
Stela
langsung menoleh dan terkejut. Ternyata orang tersebut adalah Rosi.
“ayo ke kantin. Aku mau ngomong.” Ajak Rosi
Mereka
pun langsung berjalan ke arah kantin yang ada di belakang kampus. Disana mereka
memilih duduk berhadapan. Hari itu kantin lumayan sepi.
“mau ngomong apa?” Cetus Stela
“kita salah faham.” Jawab Rosi
Akhirnya
Rosi menjelaskan kejadian waktu itu. Dia bilang tentang perasaannya ke Melody.
Dan tentang Sania yang diam-diam suka juga ke Rosi. Sania marah karena merasa
kecewa Rosi menyukai Melody. Sedangkan Rosi dan Melody menjauh karena merasa
bersalah dengan Sania.
“kenapa gak cerita ke aku?” protes Stela
“aku Cuma takut, maafin kita.” Jawab Rosi
“sudahlah, luapin aja.” Hibur Stela
Rosi dan Stela berbaikan sejak itu.
Dan mereka sempat mendapat kabar dari Melody. Sedangkan mereka benar-benar
kehilangan kabar tentang Sania. Meski begitu mereka tetap menganggap Sania
tetap teman mereka dan suatu saat pasti akan bertemu lagi.
***
Kartika Putri (X3, XIA1)
“Kado Terindah”
“Kriing!..kriing!..” suara alarm berwarna ungu di kamarku berbunyi
nyaring. Aku terbangun dan langsung merogoh sisi bantal untuk menemukan handphone-ku. Dengan mata setengah
mengantuk aku membuka pesan singkat sambil tersenyum lebar. Tak perlu pikir
panjang, aku segera meraih handuk dan mandi setelah itu bersiap-siap. Sesudah
rapi, aku menuju ruang makan untuk sarapan pagi. Di meja makan, Bibi telah
menyiapkan sup ayam dan susu putih untukku. Seperti biasanya Ayah dan Ibu tak
semeja makan denganku karena mereka lebih pagi berangkat ke kantor untuk
bekerja sedangkan aku dalam masa liburan semester satu. Aku duduk manis dan
melahap sarapan pagi. Bibi terheran-heran melihatku yang tak seperti biasanya. ”Lho
kok yo senyum-senyum dhewe tho nduk?” celetuk bibi tiba-tiba dengan suara Jawa
‘medhok’-nya”. Oh nggak apa bi, cuma lagi seneng aja hehe” jawabku santai
sambil terkekeh. Tiba-tiba ada suara klakson sepeda motor berbunyi didepan
rumah. Aku segera beranjak dari kursi meja makan dan pamit kepada Bibi, Bibi
menyuruhku berhati-hati dijalan.
Di depan, sosok pria berpostur tubuh tinggi dan kurus telah berada di
depan rumah, tersenyum dan melambai kepadaku. Dia pria yang 2 tahun lebih tua
dariku, senyumnya manis penuh magis ketika aku memandangnya. Nathan, dia adalah
kekasihku. Aku segera membuka pagar rumah. Ia menyodorkanku helm dan aku segera
naik di boncengan motornya. Pagi ini kami akan ke toko musik. 15 menit berlalu,
akhirnya kami sampai di toko musik yang kami tuju. Nathan berjalan cepat kearah
sheet alat musik biola. Nathan sangat
ahli bermain biola. Mata dan kepalanya melihat kesana kemari memilih biola,
karena dia terlihat bingung aku segera menghampirinya, “Pilih yang ini aja
warna coklat tua, bagus buat cowok” kataku tiba-tiba sehingga Nathan sedikit
kaget, ia tersenyum. Nathan memilih biola yang aku sarankan dan segera ke kasir
untuk membayarnya.
“Kamu haus nggak? Ke taman yuk. Disana lagi banyak penjual permen
kapas.” Nathan menatapku dan menarik tanganku untuk naik motornya. Aku
mengangguk girang, Nathan selalu tahu apa yang aku suka, semuanya. Ia
benar-benar hebat dalam mengingat. Sesampai di taman, Nathan mencubit pipiku
dan berlari ketengah taman. Ia benar-benar jahil, aku mulai mengejarnya dan
tertawa. Nathan menyerah dan mengajakku duduk di bangku taman, sambil membawa
permen kapas dan 2 botol soft drink.
Aku melihatnya meneguk soft drink, ia terlihat lebih tampan ketika berkeringat.
Nathan menoleh, aku menjadi salah tingkah, ia meringis dan mengacak-acak
rambutku dengan jahil. Kami tertawa bersama lalu Nathan terdiam sejenak. “Kita
udah pacaran satu bulan lebih, hampir dua bulan ya” Nathan menatap lurus kearah
Taman bermain. “Iya, bentar lagi kita anniversary.
Semoga kita terus bisa bareng”. Aku tersenyum kearah Nathan tetapi ia tak
menoleh dan melanjutkan perkataannya. “Jangan selalu berharap bersama, ingat
Tuhan bisa mengubah apa saja”. Aku terdiam. “Kalau aku ngga ada kelak, kamu
janji ya bakal jadi cewek yang tetep baik dan jangan cengeng mulu”. Aku refleks meninju kecil lengan Nathan. Aku
benar-benar tidak suka dengan perkataannya. “Kamu ngomong apa sih? Jangan gitu
ah”. Nathan menoleh kearahku dan mengejek dengan nada bicaranya “Tuhkan
digituin aja udah mau nangis haha. Tapi mau engga mau kamu harus janji ya?”
Nathan mendekatkan kelingkingnya ke jemari kelingking kanan ku. Aku hanya
mengangguk dan merangkul kelingkingnya dengan jemari kelingking kanan ku.
Nathan tersenyum lepas, seakan semua yang ia pendam dan ia keluarkan sudah tak
ada beban. Setelah menghabiskan waktu bersama, Nathan mengantarkanku pulang. Ia
menggenggam tanganku erat ketika kami berjalan kearah sepeda motor. Sangat
berbeda tak seperti biasanya, seperti rasa takut… takut kehilangan sosok pria
terbaik yang pernah kukenal.
Aku mematung di depan pagar rumah
sampai melihat punggung Nathan menghilang dari jangkauan mataku. Setelah itu
aku segera masuk ke dalam rumah. Ibu menyambutku di ruang santai “Abis kencan
sama Nathan ya?” nada Ibu meledek. “Apaan sih Bu, kan anak muda wajar dong” aku
membalas canda ejekan Ibu. “Haduh dasar anak muda zaman sekarang. Ya sudah kamu
cepet mandi nanti Ayah datang kita makan malam bareng, OK!”. Aku hanya
mengangguk dan mengarahkan kedua jempolku pada Mama, tanda setuju. Setelah
mandi, aku mengambil hp untuk sekedar mengecek, ada SMS dari Nathan. Dengan
senyum simpul ku buka SMS dari Nathan. Seketika senyumku berubah menjadi getir,
bibirku gemetaran gemas. Aku kecewa, marah, sakit hati. Mengapa Nathan
tiba-tiba mengatakan ingin mengakhiri hubungan kami di pesan singkat ini? Aku
mencoba menelponnya, tak ada jawaban. Aku benar-benar remuk, pria yang ku
bangga-banggakan bisa se-pengecut ini. Memutuskan hubungan lewat pesan singkat
dan tak ada kabar apapun darinya. Butiran air hangat perlahan membasahi pipiku.
Hujan pun seakan tahu dan ikut dengan suasana hatiku. Aku menggelamkan badanku
dalam selimut hangat menenangkan pikiranku, meluapkan emosiku, perih sangat
perih, hatiku menjerit lirih. Ketokan pintu kamar tidak kuhiraukan. Aku
tenggelam dalam sedih dan menenangkan hatiku hingga terlelap..
Burung berkicau, sinar matahari yang menembus jendela kamarku memaksaku
untuk segera bangun. Aku berjalan malas menuju pintu, untuk ke ruang makan
seperti biasanya. Di dekat pintu kamar ada meja rias, aku melihat mataku
terlihat sembab membengkak, entah berapa lama aku menangis semalam. Ruang makan
sepi seperti biasanya. Hanya ada makanan dan susu putih yang telah disediakan
Bibi, Seperti biasanya Ayah dan Ibu pergi ke kantornya. Aku hanya meraih susu
putih di meja makan dan tidak menghabiskan sarapan pagiku karena tak nafsu.
Tiba-tiba handphone-ku berdering, ada
panggilan masuk. Aku berlari ke arah kamar tidurku. Terpampang di layar hp,
nomor tidak dikenal. Aku merasa aneh dan segera menjawabnya. Belum sempat
mengatakan ‘hallo’, seseorang wanita di ujung telepon sana menangis tersendu.
Dari nada bicaranya wanita itu sekitar berumur 45 tahunan. Wanita itu memohon
agar aku segera menemuinya dengan suara serak karena tangis. Aku shock mengenali suara wanita itu dan
merapikan diriku seadanya karena terburu-buru. Aku benar-benar takut, dan
berharap tidak ada hal buruk terjadi. Aku berlari ke jalanan untuk mencari taksi.
Sepanjang perjalanan aku hanya berdoa dan tergiang perkataan wanita di telepon
tadi.
Taksi tepat berhenti di alamat yang ku tuju,
sebuah rumah berwarna coklat, yang tak asing bagiku. Banyak orang berkerumun
disana, aku semakin panik. Aku menerobos kerumunan orang yang mengenakan baju
hitam. Pada saat aku berhasil menerobos masuk ke dalam rumah itu, kaki ku
melemas tak berdaya, aku merasa tak kuat untuk berdiri, aku terduduk lemas
disamping seseorang wanita dan pria yang tak lain adalah Papa dan Mama Nathan. Mama
Nathan menoleh ke arahku, bibirnya getir seperti ingin mengatakan sesuatu
padaku tetapi terasa berat dan pahit. Beliau memelukku erat, aku merasakan
tubuhnya bergetar, ketakutan. “Nathan….. sudah tiada, nak”. Beliau menangis sejadi-jadinya.
Aku mematung, air mata di pelupuk mataku tak kuasa ku bendung. Aku benar-benar
tak percaya Nathan telah tiada…
Harum bunga semerbak wangi dalam suasana berkabung, ketika aku
menaburkan diatas tanah basah, makam Nathan. Semua orang yang menyelawat telah
pergi meninggalkan makam, kini tinggal aku, Papa dan Mama Nathan. Mama Nathan,
mulai bercerita kepadaku sambil menaburkan bunga diatas makam anaknya. ”Kamu
tahu, nak? Nathan benar-benar mencintaimu. Sikap menyebalkannya akhir-akhir ini
membuatmu kesal, agar kamu membencinya”. Aku terdiam. “Nathan benar-benar
berubah semenjak mengenalmu, dulu dia adalah orang yang mudah putus asa”. Papa
Nathan menatapku dalam. “Nathan sudah lama mengidap penyakit paru basah dan
jantung sejak masih bayi karena sewaktu itu kandungan tante terkena virus. Kami
tak akan tega mengoperasinya saat dia masih bayi. Dia menyembunyikan hal itu
darimu karena dia tidak ingin merepotkanmu dan membebanimu, nak. Dia berusaha
bertahan dan sembuh dari penyakitnya demi kamu, tapi Tuhan berkata lain”. Mama
Nathan berucap lirih menangis sambil menatap batu nisan anak yang dicintainya.
Papa Nathan berusaha menenangkan Mama Nathan. “Nathan bilang, dia sangat
beruntung sempat memiliki kamu di akhir hidupnya karena kamu mengubah segalanya,
mengajari semua hal yang tidak pernah ia ketahui dengan tulus sebelumnya. iklaskan
ya nak, dia sudah tenang di sana”. Perkataan Papa Nathan menguatkan ku. Aku
merasa lebih tegar dan lega karena semuanya telah ku ketahui dengan akhir yang
membahagiakan. Aku mengangguk mantap dan menghapus airmataku mengingat pesan
terakhir yang Nathan ucapkan padaku. Kami bertiga beranjak pergi dari makam.
Aku berjalan sambil menoleh kearah makam Nathan dan tersenyum. Dalam hatiku, “Terima
kasih Nathan, telah menjadi kado terindah dalam hidupku”…
-SELESAI-
Berliana Okta (X3, XIA4)
Seberkas Harapan
Aku hidup bukan untuk menunggu cintamu.
Sulit ku terima semua keputusan itu.
Yang kini hilang tersapu angin senja.
Masih sulit pula untuk ku lupakan.
Suram dan seram jika ku ingat kembali.
Mungkin harus ku biarkan semua kenangan itu,
agar abadi oleh sang waktu.
Sulit ku terima semua keputusan itu.
Yang kini hilang tersapu angin senja.
Masih sulit pula untuk ku lupakan.
Suram dan seram jika ku ingat kembali.
Mungkin harus ku biarkan semua kenangan itu,
agar abadi oleh sang waktu.
“Harapan
Kosong!!” nggak enak kan. Itulah yang aku rasain saat ini. Aku Jessica Veranda
menyukai seorang cowok bernama Fahri Ananta, seorang cowok yang manis, baik,
jago kimia, jago fisika dan jago voly. Aku mulai menyukainya saat pertama aku
bertemu dengannya. Yaahh !! aku memang baru bertemu dengannya saat aku
menjalani Masa Orientasi Sekolah (baca;
MOS) di sekolah baruku. Awalnya, Aku memang tak pernah mengharapkan untuk
bisa dekat dengannya, karena aku tahu untuk bisa dekat dengan kakak kelas itu
tidak mudah. Mungkin aku hanya bisa berpapasan dengannya tanpa harus saling
menyapa.
***
Pagi itu aku
sambut dengan senyuman. Tepat pukul 06.00 WIB aku berangkat ke sekolah dengan
mengendarai motor bebekku. Setibanya di sekolah, dengan cepat aku pun berlalu
masuk kelas. Aku lupa bahwa hari itu ada tugas rumah yang belum aku selesaikan.
Tiba tiba “Praakkk!!” datang temanku Stella sambil menggebrak meja dan
berteriak memanggil namaku “Ve ..... “
“apaan sih kamu
itu??? nggak ngerti ya aku lagi apa ini???” seruku sambil menggerutu.
“Oke Ve, kalo aku
emang ngganggu kamu. Sorry deh. Tapi sekarang kamu harus tahu account twitter
Kak Fahri” jawabnya sambil sedikit berbisik kepadaku.
“account twitter
Kak Fahri??? Mana mana??” jawabku sedikit bingung.
“ini nih usernya @FahriNanta” kata stella sambil menuliskan sebuah username twitter
di buku tulisku.
“serius kamu
stell??? Ini usernya?? Makasih stella ... mumumuuuaaahhh ” kataku
“udah udah jangan
gitu ahh. Buruan kerjain prmu dulu. Ntar kalo udah buruan difollow terus coba
mention minta follback. Soalnya aku tadi malem minta follback langsung
difollback loohhh... bales mention ku pake emot senyum lagi” kata stella
memanasi ku.
“seriuuuuuussss???
Sumpeh? Demiapah cobak??? Omygod ... iya ya stell ini aku hampir selesai kok”
sahutku.
“udah ntar aja
deh waktu istirahat, habis ini juga bel masuk bunyi” kata Stella.
Pelajaran pertama
dan kedua serasa lama sekali, aku tidak
sabar untuk membuka account twitter. Walaupun aku tahu, aku tak akan berani
mention ke Kak Fahri yang lain lain kecuali hanya meminta ‘follback’. Bel istirahat pun berbunyi. Tak memperdulikan
sekeliling aku langsung mengeluarkan handphone
“Stella ... sini !!”
“iya Ve,
bentaarrr ..” jawab stella dengan lantang.
“ini
accountnyaaa??? Ya Tuhan ... avanya cute banget.” Gumam ku
“sudah follow
gih, terus mention minta follback” kata Stella.
“iyaya stell,
ihihiiii” jawabku sambil tertawa kecil.
Tak terasa aku
sudah menghabiskan lebih dari 300 menit untuk berada disekolah. Bel pun
berbunyi nyaring pertanda waktunya pulang. Sepulang sekolah, aku masih terngiang-ngiang
user account twitter itu. Dirumah aku selalu membuka profil twitter nya. Aku
tersenyum senyum kecil ketika melihat avatarnya. Aku masih terkagum kagum
dengannya. Aku masih ingin melihat jelas wajah dengan senyum manisnya itu.
***
Esok harinya, aku
datang kesekolah bagai kupu kupu dengan wajah yang sangat riang. Berkali kali
temanku yang lain bertanya ‘ada apa dengan diriku ini?’ dan aku hanya tersenyum
kecil. Tak lama kemudian, bel istirahat berbunyi. seketika aku teringat hari
kemarin. Dengan penuh semangat aku pun membuka account twitterku dan berteriak
“Stella ... siniii!!”
“ntar Ve, jalan
ni jalaaaan .. “ jawab Stella.
“sini stella,
liat nih aku difollback, tapi kok??? Ngga ada emotionnya sih” kataku.
“haahhh?? Iyaa???
Ahahahaaa kaasian deh kamu!!” kata Stella.
“eee ngga papa
deh, yang penting aku uda tau usernya. Bisa stalking2. Makasih banyak Stella
mumumuuuuahhh”
“sudah sudah
syelaaalluuuuu begitu!! Ayo ke kantin yok” kata Stella.
Hari itu bagiku
terasa sangat cepat sekali. Entah tak tahu apa yang terjadi pada waktu itu. Aku
tak tahu. Yang kutahu, hanya seperti mengikuti 1 jam pelajaran saja. Padahal
dibutuhkan banyak menit untuk bisa mendengar bel pulang berbunyi.
***
Keesokan paginya,
aku cerita ke Stella. Bahwa salah satu tweet ku direplay oleh Kak Fahri tadi malam. Aku tahu mungkin ini adalah hal
yang sangat tidak penting untuk aku ceritakan. Namun, yaaahh !! seperti biasa.
Bukan Jessica Veranda kalau ada apa apa tidak cerita. Entah kenapa aku seperti
menerima suatu pesan bahagia di kotak masuk. Aku pun mengambil handphone dari saku dengan sembunyi
sembunyi. Yah !! memang pada saat itu aku sedang menerima mata pelajaran
Fisika. Di handphone memang sudah
tertera jika ada satu pesan masuk belum terbaca. Tak tanggung tanggung aku pun
membuka pesan itu dan kemudian diikuti rasa kaget yang menumpuk secara tiba
tiba. Pada saat itu, aku baru saja menerima pesan masuk dari Kak Melo yang
berisi “tadi Fahri ke kelasku tanya tentang kamu, terus sama minta nomer kamu.
Uda aku kasih juga kok. Kalo di sms nomer
089684959946 jangan bingung itu nomer
Fahri.”
Sudah hampir
berkali kali Kak Fahri me-replay
tweet ku. Dan setiap Kak fahri me-replay,
perasaan ku terasa sangat bahagia. Dan akhirnya kak fahri pun me-replay tweet baru ku dengan kalimat
“dek aku minta nomor kamu”.
Mungkin ini hanya
terjadi pada mimpi. Tetapi itu semua memang terjadi. Dia meminta nomor handphone ku langsung, walaupun itu via
twitter. Tanpa berfikir panjang aku langsung men-Direct Message nomor ku ke username @FahriNanta. Sejak saat itulah, kak fahri mulai sms-an dengan ku. Ya Tuhan ... aku
sangat bahagia saat itu.
Baru 3 hari sms-an, tiba tiba kak fahri menanyakan
status ku. Aku menerima sebuah pesan singkat darinya yang berisi “dek, kmu sdah
pnya pacar?”. Aku sempat terkejut melihat isi pesan itu. Tak kehilangan akal,
aku pun bertanya balik padanya. Dan rasanya tahu kalau kak fahri lagi Single
ituuuuuuhhh ‘Kayak ngebelah atsmofir berlapis-lapis, meluncuuuuur bareng paus
akrobatis, terus ngebut ke rasi bintang paliiiing manis!!’
Setelah itu,
bayangannya terus menari-nari di otakku. Menemaniku dalam mimpi dan harapku.
Apakah kelak yang akan terjadi? Masih adakah pertemuan selanjutnya? Terus ku
berharap, walau rasa malu dan penasaranku mengalahkan segalanya.
Ternyata takdir ku
untuk berpapasan dengannya disekolah masih ada yang kedua, ketiga, keempat dan
selanjutnya, walau itu semua masih dengan wajah dingin dan tanpa ekspresi. Kala
itu aku sudah berani berharap terlalu jauh. Namun, aku masih tidak tahu apa yang akan terjadi di keesokan
harinya? Kalau memang Tuhan
menghendaki pertemuan ini terus terjalin, berarti itulah yang terbaik bagiku. Tetapi
kalau memang harus berpisah, itu juga yang terbaik untukku. Aku yakin setiap peristiwa
pasti punya makna. Setiap makna berati goresan kalam kisah kita. Mau tidak mau,
harus mau!!!!!!!!
***
Seminggu, dua
minggu, sampai dua bulan kulalui semua
tanpa lagi kedengar tentang keberadaannya. Dia tak lagi mengirim sms padaku. Dia tak lagi mengirim ucapan
selamat pagi, malam, selamat makan dan lain lain. Aku masih ingat waktu itu.
waktu dimana tepat pada hari Selasa pukul 13.00 WIB tanggal 25 Desember didepan
kelas. Itu adalah hari dimana aku bisa bertemu dengannya, pertama kali dengan
sebuah janji. Namun, kini semuanya berubah. Aku tak lagi menerima gombalan
gombalan atau pesan singkat darinya. Pesan singkat yang sangat berharga untuk
mewarnai kehidupanku. Entah kenapa aku tak lagi menerima senyumnya ketika
berpapasan. Oh Tuhan .. ada apa ini sebenarnya??? Mungkinkah takdirku untuk
selalu dekat dengannya sudah berakhir cukup sampai disini??? Atau mungkin aku
memang sudah tak pantas lagi untuk berada didekatnya???
Tak pernah tahu
akan kesalahanku, aku hanya bisa diam dan selalu meminta maaf ketika berhadapan
dengan Kak Fahri. Mungkin, Iya jika Kak Fahri sudah punya kekasih. Tetapi bukan
seperti ini caranya kalau Kak Fahri menginginkan aku pergi. Oh Tuhan .. aku
rindu akan semua hal indah tentang Kak Fahri yang telah berlalu ini. Saat saat
aku diajak terbang tinggi mengelilingi angkasa. Aku tak tahu ada apa ini
sebenarnya, sungguh sungguh tidak tahu. Kak Fahri pergi menghilang tanpa
meninggalkan pesan untukku. Mungkin yaa!! Benar!! Aku bukan siapa siapa dia.
Aku bukan seseorang yang pantas untuk menuntut kabarnya selalu setiap saat.
Mungkin aku memang benar benar seorang adik kelas yang tak diharapkan
kedatangannya oleh siswa laki laki tenar ini. Sungguh tak bisa dipercaya.
Dahulu selalu memberi kabar lewat sms,
selalu say hello setiap bertemu,
sekarang berakhir dengan kebencian.
Kau beriku
harapan bagaikan sinar dalam kegelapan
Kau buatku
mengembangkan senyum dalam kesedihan
Kau buatku
melayang menyusuri lautan lepas
Namun
kehadirannya buatku terhempas
Tersungkur
di lereng penuh dilema
Dia menuntunku
dengan penuh senyuman
Memelukku dengan
penuh kehangatan
Dan menyesatkanku
dalam jurang penuh dusta
-END-
Kartika Putri (X3, XIA1)
"Memeluk Dalam Beda"
Desiran AC
menyejukkan suasana siang hari itu. Chika menggulung rambut panjang hitamnya,
ia masih merasa gerah. Perempuan berdarah Jawa itu mencari komik dengan teliti
di sheet ke-3. Sepasang mata bulatnya fokus dan... dapat! Ia menarik komik
‘Detective Conan’ edisi 99 dari sheet
buku tetapi sebuah tangan dengan kulit langsat memegang ujung komik itu. Mereka
saling bertatapan. “Eh maaf aku kira dari sheet
ke-3 tadi buku itu nggak ada yang ambil. Ternyata kita ambilnya barengan, gue
nggak lihat”. Kata pria itu mencairkan suasana. “Oh nggak apa, ambil aja. Gue
nggak jadi beli”. Chika tersenyum tipis lalu beranjak meninggalkan Toko Buku.
Pria itu hanya mematung sejenak lalu berjalan menuju kasir untuk membeli komik
yang menjadi rebutannya dengan Chika tadi.
Chika terburu buru
menuruni anak tangga menuju ke ruang tengah. ”Kamu terburu-buru gitu sih, nak?”.
Tanya mama Chika sambil menuangkan jus jeruk ke
dalam gelas pink Chika dengan terheran-heran. “Duh ma telat nih, Chika
lupa kalo hari ini ada kuliah pagi”. Chika mengerutkan dahinya sambil meneguk
cepat jus jeruk di gelas pinknya. “Pelan-pelan minumnya Chik...” belum sempat
mamanya melanjutkan perkataan, Chika meraih tangan dan mencium tangan mamanya,
berpamitan. Tak lupa ia mencium kedua pipi mama kesayangannya. Chika nyelonong
pergi. Mamanya hanya menggelengkan kepala, melihat tingkah lucu dan aneh
anaknya.
Kelas bisnis ada
dilantai 3. Mahasiswa dilarang menggunakan lift
untuk sampai ke atas. Chika menghela nafas panjang. Lalu ia berlari menyusuri
anak tangga dengan berlari. BRUKKK!! Chika terjatuh. Chika mendengus kesal dan
ingin mengutuk orang yang menabraknya ini. Ia menoleh ke arah orang yang
menabraknya. Ternyata, pria yang ditemuinya di Toko Buku kemarin. “Punya mata
nggak sih lo? Udah tahu ada orang keburu main tabrak aja!”. Ia benar-benar
kesal kali ini. “Maaf, bukannya lo yang salah? Lo yang nabrak gue. Gue kan
jalannya santai. Liat itu alkitab yang gue bawa jatuh semua kan”. Pria itu tak
mau disalahkan oleh Chika. Benar-benar memalukan, ini memang salah Chika, ia
baru menyadarinya. Segera Chika membereskan alkitab yang berserakan di lantai
tangga, kemudian memberikannya pada pria itu. “Lo kristian?”. Chika menatap
Jordan. “Iya, Lo juga?”. Jordan berbalik bertanya. Chika hanya menggeleng. “Oh
yaudah, kenalin nama gue Gabrielo Jordan. Panggil Jordan aja”. Pria itu
mengulurkan tangannya pada Chika tanda berkenalan. Oh, Jordan.. gumam Chika
dalam hati. “Gue Araya Chika. Dipanggil Chika, maaf ya”. “My pleasure, Oh ya kelas bisnis udah hampir habis jamnya. Mending
lo ikut gue ke kantin. Gue traktir, anggap permintaan maaf di Toko Buku
kemarin”. Jordan menuruni anak tangga. Benar kata jordan, Chika pun mengikuti
langkah Jordan dari belakang.
“Mau makan apa?”.
Jordan menduduki bangku kantin. “Mau mie kocok Bandung sama es teh”. Seru Chika
tanpa pikir panjang. Kantin terasa sepi, karena memang masih jam kuliah. Hanya
ada 3 orang mahasiswa yang sedang nongkrong sambil berbincang. Saat menunggu
makanan datang, mereka hanya diam satu sama lain, canggung. Sampai akhirnya
Jordan berkata, “Ini buat lo, ntaran aja bukanya di rumah biar kaget haha”.
Tawa renyahnya menggema kecil. “Lebay ah! Haha oke makasih ya”. Jordan hanya
mengangguk. Mereka lalu makan karena makanan yang dipesan sudah datang ke meja
mereka.
Malam harinya, Chika
merebahkan diri di kamarnya. Ia teringat kotak putih bercorak musik yang
diberikan Jordan tadi siang di Kampus. Ia segera membukanya, ternyata berisi
komik ‘Detective Conan’ edisi 99 yang di ngebetin Chika. Ia sudah menduga
sekali bahwa komik itu, komik yang menjadi rebutannya dengan Jordan di Toko
Buku waktu itu. Chika tertawa kecil. Perasaannya senang sekali, berbeda tak
seperti biasanya. Mungkinkah Chika jatuh cinta?. Chika menyimpan rapi pemberian
Jordan. Lalu ia mengambil air wudhu untuk shalat. Ya Tuhan... dosakah jika aku mencintai makhlukmu yang berbeda agama
denganku?. Chika bercakap dalam tengadah tangannya pada Tuhan. Ia
meneteskan airmata di akhir doanya.
Minggu pagi, Chika
dibangunkan lebih pagi oleh mamanya. “Chik, ayo bangun. Papa akan pulang malam
ini dari dinasnya. Kamu temenin mama belanja ya”. Chika mengucek matanya yang
masih berat untuk bangun sambil mengangguk lemah ke arah mamanya lalu ia
beranjak menuju kamar mandi.
Selesai berbenah, Chika menuruni tangga lalu mencari sosok mamanya. Tapi yang ia temui adalah sosok Jordan. Belum sempat Chika bertanya, mamanya sudah muncul. “Jordan temen deket Chika ya? Kok Chika nggak cerita? Tadi Jordan kesini mau nemuin kamu Chika”. “Oh ya, Jordan ikut kita belanja buat nyambut papanya Chika nanti malam, mau kan?”. Cerocos mama Chika panjang lebar. Jordan ingin menolak tapi tak enak dengan mamanya Chika. “Ok, tante dengan senang hati”. Jordan tersenyum. Ia menyetir di depan, Chika disampingnya dan mama Chika di jok tengah. Mobil melaju
keluar rumah.
Mereka berbelanja hingga sore. Kedekatan Chika dan Jordan pun semakin dekat. Hingga tanpa mereka berdua sadari, keduanya saling menaruh hati.
Selesai berbenah, Chika menuruni tangga lalu mencari sosok mamanya. Tapi yang ia temui adalah sosok Jordan. Belum sempat Chika bertanya, mamanya sudah muncul. “Jordan temen deket Chika ya? Kok Chika nggak cerita? Tadi Jordan kesini mau nemuin kamu Chika”. “Oh ya, Jordan ikut kita belanja buat nyambut papanya Chika nanti malam, mau kan?”. Cerocos mama Chika panjang lebar. Jordan ingin menolak tapi tak enak dengan mamanya Chika. “Ok, tante dengan senang hati”. Jordan tersenyum. Ia menyetir di depan, Chika disampingnya dan mama Chika di jok tengah. Mobil melaju
keluar rumah.
Mereka berbelanja hingga sore. Kedekatan Chika dan Jordan pun semakin dekat. Hingga tanpa mereka berdua sadari, keduanya saling menaruh hati.
Setelah selesai
berbelanja, Jordan dan Chika membawa barang belanjaan. Mama Chika cibuk membuat
makanan dibantu pembantu di rumah. Chika duduk di sofa, sambil menuangkan jus
untuk Jordan. “Tadi habis kemana? Kok bisa mampir kesini?”. “Habis dari Gereja.
Pengen aja ke rumah lo hehe”. Jordan meneguk jus-nya. “Jordan disini aja ikut
makan malam bareng ya. Tidak boleh ada penolakan!”. Seru mama Chika serius.
“Iya, tante. Nggak apa nih?”. “Iya, kalian bersiap-siapa saja dulu habis ini
papanya Chika pasti datang”. Mama Chika tersenyum lalu kembali berjalan ke
dapur. Dalam hati, Chika senang sekali ingin mengenalkan Jordan pada papanya
nanti.
Klakson berbunyi, suara
mobil jazz hitam memasuki halaman rumah. Pintu rumah dibuka. “Welcome to home, papa!”. Chika menyeru
kemudian memeluk papanya. Papanya hanya tersenyum, beliau memang sedikit dingin.
Papa, Mama, Chika dan Jordan lalu duduk bersama. “Kenalin om, saya Jordan”.
Jordan mengenalkan dirinya. “Pacar Chika? Namanya unsur kristian, Beda agama
ya?”. Chika tercekat dengan pertanyaan papanya. “Kalau bukan se-agama kenapa
pa? Perbedaan nggak harus menghalangi segalanya, termasuk cinta! Chika sayang
sama Jordan”. “Iya om, saya juga sayang dengan Chika. Apa semua ini salah? Kami
kan anak muda om, wajar. Toh kalo beneran, kita juga masih tahap pacaran om”.
Jordan ikut mempertahankan pendiriannya. Chika berderai airmata. Papanya memang
dingin, tapi tidak seperti ini juga. Chika benci. Ia tak mempedulikan perkataan
papanya lagi. ia berlari ke tangga dan menuju kamarnya, Chika mengunci diri di
kamar. Semua hanya diam mematung dengan makanan dihadapan masing-masing.
Paginya
mama mengetuk pintu kamar Chika. Dengan mata sembab dan langkah gontai Chika
menuju pintu kamar, membukakan pintu untuk mamanya. “Masih sedih sayang? Ayo
mandi setelah itu ke ruang tengah. Papa ingin bicara denganmu”. Tutur mama
dengan lembut dan halus. Chika hanya mengangguk lemah, ia merasa malas untuk bertemu papanya pagi
ini. iya tak ingin bercekcok untuk kedua kaliya dengan papanya masalah cinta
tapi bedanya dengan Jordan. Dengan pasrah Chika bergegas mandi.
Ketika sampai di ruang
tengah, ada mama dan papanya telah duduk menunggu Chika disana. Papanya mulai
angkat bicara. “Chika sayang, maafkan papa ya nak. Papa sadar kalian memang
masih tahap pacran. Entah mau besok atau seterusnya akan dipikirkan nanti juga.
Papa terlalu kejam dengan kamu, Chika. Maafkan papa. Papa mengizinkan kamu
berpacaran dengan Jordan walaupun kalian beda agama”. Papa berbicara dengan
bijaksana. “Papa serius?”. Chika terbelalak kaget. Papanya hanya tersenyum.
Tiba-tiba pintu rumah terbuka, Jordan muncul dibaliknya. “ Saya nggak terlambat
kan om?”. Bicaranya dengan terburu-buru. “Haha nggak telat kok. Ayo sini
masuk”. Kekeh mama karena melihat wajah Jordan yang panik. Chika berdiri dan
langsung memeluk Jordan. “Biarkan aku memelukmu dan bercakap melipat tangan
dengan Tuhanku, dan kamu memelukku dan bercakap menengadah dan bersujud dengan
Tuhanmu. Bukan karena kita berbeda, akan menghancurkan segalanya. Tetapi,
perbedaan menangguhkan segalanya, termasuk cinta kita”. Jordan tersenyum
menatap Chika. Chika meneteskan airmata tanda bahagia, mama dan papa ikut
bahagia. Terima kasih Tuhan, izinkan aku
menjaga nya dalam cinta tapi beda yang kami jalani. Bisik Chika dalam hati
kecilnya.
~END~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar